Facebook Bentuk Dewan Pengawas yang Bisa Memveto Zuckerberg

Kompas.com - 08/05/2020, 09:16 WIB

KOMPAS.com - Facebook mulai membentuk dewan pengawas untuk moderasi konten. Sebanyak 20 anggota awal yang terdiri dari orang dari berbagai layar belakang telah diumumkan.

Mereka antara lain merupakan mantan perdana menteri, peraih penghargaan Nobel Perdamaian, ahli hukum, editor media peraih penghargaan Pulitzer, dan advokat hak asasi manusia.

Dewan independen yang dijuluki sebagai "Mahkamah Agung Facebook" oleh beberapa pihak ini berhak memveto alias membatalkan keputusan perusahaan soal konten mana yang dibolehkan, sekalipun keputusan dibuat oleh pendiri sekalius CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Baca juga: Facebook Bisa Transfer Foto dan Video ke Google Photos, Begini Caranya

Pembentukan dewan independen dilatarbelakangi rentetan kritik terhadap Facebook soal moderasi konten. Pada beberapa kasus, ada konten yang dianggap layak tetap dipajang namun dihapus oleh Facebook. Ada juga yang sebaliknya, tak layak tapi dibiarkan.

Misalnya, Facebook sempat menyensor foto humanis "Napalm Girl" yang terkenal dari perang Vietnam. Sementara, ujaran kebencian atas Rohingya di Myanmar masih merajalela.

Dewan pengawas independen bentukan Facebook akan berfokus pada moderasi isu konten yang spesifik, antara lain mencakup ujaran kebencian, pelecehan, serta permasalahan keamanan masyarakat.

Dirangkum KompasTekno dari Reuters, Jumat (8/5/2020), anggota dewan pengawas Facebook berasal dari 27 negara. Sebagian dari mereka, yakni seperempat jumlah anggota dan dua dari empat ketua, berdomisili di Amerika Serikat yang merupakan "rumah" Facebook. 

Baca juga: Lockdown di Berbagai Negara, Pengguna Facebook Naik Tajam

Keempat ketua adalah mantan hakim federal daerah dan praktisi kebebasan agama di AS, Michael McConnell, ahli hukum Jamal Greene, pengacara asal Kolombia Catalina Botero-Marino, dan mantan Perdana Menteri Denmark, Helle Thorning-Schmidt.

Sementara, anggota dewan antara lain mantan hakim pengadilan Hak Asasi Manusia pengadilan Eropa, András Sajó, direktur eksekuti asosiasi asal Perancis, Internet Sans Frontières, Julie Owon.

Ada pula aktivis Yaman dan peraih Nobel Perdamaian, Tawakkol Karman, serta mantan editor Guardian, Alan Rusbridger, dan advokat hak digital asal Pakistan, Nighat Dad.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.