TikTok Bikin Situs Web dan Akun Twitter untuk Sanggah Tudingan AS

Kompas.com - 18/08/2020, 18:02 WIB

Di China, ByteDance memiliki aplikasi serupa TikTok yang bernama Douyin. Isu pelanggaran data pribadi juga pengguna lagi-lagi ditepis oleh TikTok.

TikTok juga berkomitmen untuk menangkal misinformasi dan tidak akan campur tangan dalam pemilu AS yang akan berlangsung November mendatang.

Baca juga: Dijegal AS, TikTok Siapkan Data Center di Eropa

Mereka kembali mengaskan tidak memberikan data pengguna AS apapun ke pemerintah China, termasuk apabila diminta. Isu ini memang berkembang sejak tahun lalu.

Akhir tahun 2019 lalu Dua anggota dewan di AS, Chuck Schumer dan Tom Cotton menuliskan sebuah memo yang ditujukan kepada mantan Direktur Intelijen Nasional AS Joseph Maguire.

Isinya lebih kurang meminta penilaian ketat untuk celah keamanan nasional yang ada di  aplikasi TikTok.

"Para ahli keamanan telah menyoroti hukum intelijen, keamanan nasional, keamanan siber China yang tidak jelas, memaksa perusahaan China untuk mendukung dan bekerja sama dengan ahli intelijen yang dikendalikan Partai Komunis China," bunyi memo tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tanpa pengadilan yang independen untuk meninjau permintaan yang dibuat oleh pemerintah China untuk data atau tindakan lain, tidak ada mekanisme hukum bagi perusahaan China untuk mengajukan banding apabila mereka tidak setuju dengan permintaan pemerintah China," lanjut isi memo itu.

Pernah melacak data pengguna Android

Dirangkum KompasTekno dari Tech Crunch, Selasa (18/8/2020), investigasi yang pernah dilakukan Wall Street Journal menemukan bahwa TikTok pernah melacak data pengguna Android, terutama alamat media access control address (MAC).

Baca juga: TikTok Diam-diam Menguntit Pengguna Android dengan Cara Terlarang

Di AS, alamat MAC yang bersifat unik untuk tiap perangkat termasuk informasi identitas pribadi yang secara hukum dilindungi. TikTok disebut menggunakan lapisan enkripsi tambahan yang tidak lazim dan melanggar kebijakan di Google Play Store.

Laporan itu menyebut praktik ini telah dihentikan TikTok pada bulan November lalu, setelah 15 bulan mengumpulkan data. TikTok sekarang sedang menghitung hari setelah Presiden Trump merevisi exsecutive order yang mengancam akan memblokir TikTok di Amerika.

Baca juga: TikTok, Terancam Diblokir di Amerika Serikat dan Bakal Dibeli Microsoft?

Sebelumnya disebutkan TikTok harus segera dipindaalihkan ke perusahaan AS dalam waktu 45 hari atau sampai tanggal 20 September.

Setelah revisi, executive order diperpanjang menjadi 90 hari atau sampai 12 November 2020. Sejauh ini, Microsoft menjadi perusahaan yang paling santer dikabarkan ingin membeli TikTok di AS.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber TechCrunch
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.