Data 533 Juta Penggunanya Bocor, Ini Penjelasan Facebook

Kompas.com - 08/04/2021, 06:32 WIB
ilustrasi Facebook 9to5Mac.comilustrasi Facebook

KOMPAS.com - Facebook lagi-lagi diterpa isu kebocoran data pengguna. Kali ini, dilaporkan ada 553 juta data pengguna Facebook bocor di forum peretas amatir dan bisa diakses gratis.

Adapun data pribadi yang bocor mencakup informasi nama lengkap, nomor telepon, lokasi, tanggal lahir, ID Facebook, gender, pekerjaan, asal negara, status pernikahan, hingga alamat e-mail.

Atas kasus tersebut, Facebook berdalih bahwa ratusan data yang bocor tersebut bukan diperoleh dari hacker yang membobol sistem mereka, melainkan dari ekstraksi data atau yang dikenal dengan web scraping yang terjadi tahun 2019 lalu.

Web scraping adalah sebuah cara yang mengandalkan software otomatis untuk mengekstraksi informasi publik dari internet dan kemudian didistribusikan di forum online.

Baca juga: Data 533 Juta Pengguna Facebook Bocor, Termasuk Indonesia

Dalam blog resminya, Facebook menjelaskan bahwa saat itu pelaku memanfaatkan fitur impor kontak dan menghimpun data dari profil Facebook pengguna.

Fitur impor kontak sendiri bertujuan untuk mempermudah pengguna saling terhubung dengan pengguna Facebook lain melalui daftar nomor kontak.

Pelaku menggunakan software yang meniru aplikasi Facebook dan kemudian mengunggah banyak nomor untuk mencocokan dengan profil pengguna Facebook.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah cocok, data pengguna kemudian diekstraksi. Facebook mengklaim bahwa data yang terambil adalah data publik, tidak mencakup informasi lain seperti informasi keuangan atau kata sandi.

Celah itu disebut telah diperbaiki dan tidak ditemukan lagi saat ini, tapi aneka data pribadi ratusan juta penggua Facebook tersebut kadung bocor dan beredar di internet.

Data lama tapi berbahaya

Respons Facebook yang menyebut bahwa 553 juta data pengguna yang bocor adalah "data lama" menuai banyak kritik karena informasinya tetap valid dan bisa digunakan untuk kejahatan, misalnya nomor telepon dan alamat e-mail yang tak berubah. 

Salah satunya dilontarkan pakar keamanan siber asal Australia, Ajay Unni yang menyebut data yang bocor itu bisa digunakan untuk menargetkan phishing lewat e-mail.

"Angka tidak bisa berbohong. Terkuaknya 553 juta data pengguna bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Penjahat dunia maya berkembang pesat dengan jenis data tersebut," jelas Unni yang juga pendiri dan CEO StickmanCyber.

Baca juga: Data Pengguna Facebook Bocor, Nomor Telepon Zuckerberg Ikut Tersebar

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X