Kompas.com - 22/07/2021, 16:25 WIB

KOMPAS.com - Saudi Aramco, perusahaan minyak terkaya di dunia saat ini, mengonfirmasi bahwa sejumlah file perusahaan mereka dikuasai oleh peretas, dan meminta tebusan 50 juta dollar AS (sekitar Rp 724 miliar).

Menurut keterangan resmi dari Saudi Aramco, data yang bocor tersebut adalah data yang dimiliki oleh perusahaan kontraktor Aramco, alias pihak ketiga.

"Kami memastikan bahwa kebocoran data itu bukan karena pembobolan di sistem kami, dan tidak berimbas pada operasional, perusahaan terus mempertahankan postur keamanan siber yang kuat," tulis pernyataan Aramco, dikutip KompasTekno dari Financial Times, Kamis (22/7/2021).

Menurut laporan, jumlah data yang bocor yang diambil dari kontraktor Aramco mencapai 1 TB, mencakup data tentang lokasi-lokasi penambangan minyak, gaji karyawan, hingga data sensitif milik klien dan karyawan Saudi Aramco.

Hacker pemeras mengumbar di situs darknet bahwa mereka telah menguasai data tersebut dan meminta tebusan 50 juta dollar AS dalam bentuk mata uang kripto Monero, jika Aramco ingin data tersebut dihapus.

Baca juga: Data BPJS Kesehatan Bocor, Cek Apakah Anda Terdampak?

Dengan membayar dalam bentuk mata uang kripto, peretas nampaknya berharap pihak berwenang akan kesulitan untuk melacaknya.

Selain itu, di situs tersebut peretas juga menawarkan jika ada yang berminat membeli data milik Saudi Aramco, bisa menebusnya dengan harga 5 juta dollar AS (sekitar Rp 72 miliar).

Baca juga: Hacker Klaim Bobol dan Bocorkan Data Internal Pertamina

Perusahaan energi memang kerap menjadi sasaran serangan siber. Sebelumnya, Colonial Pipeline, perusahaan sistem pipa minyak berbasis di Houston, Texas, AS, pada Mei 2021 lalu juga menjadi korban peretasan dan pemerasan.

Lebih dari 100 GB data informasi milik perusahaan dikuasai oleh peretas, sehingga membuat perusahaan itu menghentikan jaringan distribusi minyaknya di AS, sehingga pasokan minyak berkurang di kawasan timur Amerika Serikat.

CEO Colonial Pipeline dikabarkan membayar tebusan 4,4 juta dollar AS (sekitar Rp 63 miliar) kepada kelompok peretas Rusia, DarkSide.

Perusahaan di Timur Tengah juga menjadi semacam magnet bagi peretas, menurut laporan dari PricewaterhouseCoopers LLP.

Tidak jelas siapa yang berada di balik insiden Aramco ini. Namun para peneliti siber mencatat bahwa serangan itu bukan bagian dari ransomware, di mana peretas menggunakan malware untuk merebut data pengguna, dan hanya melepaskannya setelah uang tebusan dibayarkan.

Peretas juga dikabarkan tidak mengklaim sebagai bagian dari kelompok peretas ransomware yang dikenal.

Baca juga: Hacker Jual Ribuan Rekaman Video dari Kamera Pengawas

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Membuat Avatar WhatsApp di HP Android dan iPhone, Sudah Coba?

Cara Membuat Avatar WhatsApp di HP Android dan iPhone, Sudah Coba?

Software
Punya Nintendo Switch? Sebentar Lagi Kalian Bisa Main 'Call of Duty'

Punya Nintendo Switch? Sebentar Lagi Kalian Bisa Main "Call of Duty"

Software
Memotret Konser HITC Jakarta 2022 dengan Galaxy S22 Ultra

Memotret Konser HITC Jakarta 2022 dengan Galaxy S22 Ultra

Gadget
Program Bangkit 2023 dari Google Tahun Ini Terima Siswa SMK, Ini Link Daftarnya

Program Bangkit 2023 dari Google Tahun Ini Terima Siswa SMK, Ini Link Daftarnya

Gadget
Buat Akun Telegram Kini Bisa Tanpa Nomor HP SIM Card

Buat Akun Telegram Kini Bisa Tanpa Nomor HP SIM Card

Software
Muncul Menu Baru “Avatar” di Aplikasi WhatsApp, Apa Itu?

Muncul Menu Baru “Avatar” di Aplikasi WhatsApp, Apa Itu?

Software
Kami Bawa Samsung Galaxy Z Flip 4 ke Festival Musik HITC Jakarta 2022, Ini Rasanya

Kami Bawa Samsung Galaxy Z Flip 4 ke Festival Musik HITC Jakarta 2022, Ini Rasanya

Gadget
Telkomsel Rilis Paket 'Bundling' Langganan Kompas.id, Harga Rp 55.000

Telkomsel Rilis Paket "Bundling" Langganan Kompas.id, Harga Rp 55.000

Gadget
Instagram Reels dan Stories Fitur yang Digemari Gen Z di Indonesia

Instagram Reels dan Stories Fitur yang Digemari Gen Z di Indonesia

Internet
Cara Pantau Kondisi Terkini Erupsi Gunung Semeru lewat Google Maps

Cara Pantau Kondisi Terkini Erupsi Gunung Semeru lewat Google Maps

Software
Pura-pura Hamil, Wanita Selundupkan 200 Prosesor Intel dan iPhone

Pura-pura Hamil, Wanita Selundupkan 200 Prosesor Intel dan iPhone

e-Business
Internet 5G Vs 4G di Indonesia, Segini Beda Kecepatannya

Internet 5G Vs 4G di Indonesia, Segini Beda Kecepatannya

Internet
Karyawan Induk Facebook yang Di-PHK Protes Tak Dapat Pesangon Sesuai Janji

Karyawan Induk Facebook yang Di-PHK Protes Tak Dapat Pesangon Sesuai Janji

e-Business
YouTube Klaim Sumbang Rp 7,5 Triliun untuk PDB Indonesia

YouTube Klaim Sumbang Rp 7,5 Triliun untuk PDB Indonesia

e-Business
[POPULER TEKNO] 'Rahasia' Bola Piala Dunia 2022 | Fitur Avatar WhatsApp Resmi | Ada yang Beda dari Tampilan Grup WhatsApp

[POPULER TEKNO] "Rahasia" Bola Piala Dunia 2022 | Fitur Avatar WhatsApp Resmi | Ada yang Beda dari Tampilan Grup WhatsApp

Internet
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.