Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Efisiensi Spektrum dalam Migrasi 3G ke 4G

Kompas.com - 15/08/2022, 10:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

UPAYA menyuntik mati layanan komunikasi tahun ini, ASO (analog switch off) dan telekomunikasi generasi ketiga (3G) akan tuntas di akhir tahun ini.

Semuanya bermula dari tidak efisiennya pemanfaatan spektrum frekuensi yang digunakan masing-masing, siaran televisi analog dan 3G operator seluler.

Siaran televisi analog memanfaatkan spektrum frekuensi 700 Mhz yang sangat lebar, sementara dengan digitalisasi penggunaan spektrum televisi diberikan secukupnya tetapi efisien, dan digunakan bersama. Sisanya, selebar sekitar 100 MHz dapat dimanfaatkan untuk layanan seluler.

Televisi analog memakan spektrum ratusan MHz tetapi membayar BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi sangat kecil. Sementara untuk layanan 3G yang pelanggannya harus pindah ke layanan 4G, menurut para ahli, baik dari praktisi maupun penyedia teknologi, lebih boros dalam memanfaatkan spektrum.

Baca juga: Cara Mengubah Kartu 3G ke 4G Telkomsel Tanpa ke Grapari

Dibanding 4G, layanan 3G menurut mereka tidak memberi manfaat besar secara kapasitas, sehingga penataan ulang atau suntik mati 3G akan berdampak luas pada berkurangnya konsumsi energi dan biaya operasional. Kualitas 3G tidak cukup baik, kapasitas kurang, dan mematikannya lebih cepat lebih baik, dan itu yang dilakukan semua operator seluler dunia.

Menurut mereka, layanan 4G jauh lebih efisien dibanding 3G karena kapasitas datanya lebih besar, konsumsi dayanya pun lebih efisien. Saat ini kebanyakan operator di Indonesia hanya menyediakan pita spektrum frekuensi selebar 5 MHz di rentang 2,1 GHz yang lebih bermanfaat jika digunakan untuk layanan 4G.

Juga jika layanan 5G sudah mulai dikomersilkan, ketika penetrasinya semakin tinggi dan kebutuhan masyarakat akan data berbasis 5G tumbuh pesat.

Ilustrasi jaringan 2G, 3G, 4G, hingga 5G.Kompas.com/BILL CLINTEN Ilustrasi jaringan 2G, 3G, 4G, hingga 5G.

Beda dengan 4G yang berteknologi LTE (long term evolution), 3G menggunakan teknologi WCDMA (wideband code division multiple access) yang kapasitas datanya hanya 2 MB dan ketika trafiknya bertambah, cakupannya makin menyempit (shrinking).

Baca juga: XL Janji Kecepatan 4G Makin Kencang jika 3G Mati Total

Dengan lebar frekuensi sama, kapasitas 4G LTE bisa sampai 10 MB sampai 1 GB, latensi yang lebih rendah yang ditandai dengan sedikitnya buffering, mutu suara lebih bagus, juga kualitas video streaming-nya, selain kecepatan yang lebih tinggi.

Saat ini, sama dengan 2G, hampir semua vendor ponsel tidak lagi memproduksi ponsel 3G dan penggunanya diupayakan migrasi ke 4G. Namun HMD Global, pemegang brand Nokia yang mau tak mau ikuti perkembangan teknologi, sampai hari ini masih merilis features phone berstandar 4G.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.