Kompas.com - Diperbarui 08/03/2022, 08:43 WIB

Namun setelah ATC Malaysia mengoper kendali ATC ke Ho Chi Minh, MH370 tidak pernah melakukan kontak dengan petugas ATC di Ho Chi Minh. Alih-alih seolah mengatakan salam perpisahan dengan mengucap "selamat tinggal."

Semenjak hilangnya MH370 hingga kini, berbagai analisis dari para pengamat penerbangan dan investigator di seluruh dunia pun bermunculan. Bahkan, teori-teori konspirasi pun muncul dengan menyangkut-pautkannya dengan operasi yang dilakukan oleh badan intelijen AS.

Informasi yang simpang siur

Menurut Jeff Wise, penulis buku The Plane That Wasn't There yang tulisannya juga dimuat di New York Magazine, (23/2/2015), peristiwa seperti MH370 ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan salah satu hal yang membuat MH370 terkesan misterius dan penyelidikannya sulit untuk dilakukan adalah karena informasi dari pihak berwenang Malaysia yang simpang siur.

Misalnya, Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak yang pada pagi 8 Maret 2014 mengumumkan lokasi jatuhnya MH370 diperkirakan di Laut China Selatan. Pencarian besar-besaran pun dikerahkan pada pagi yang naas itu.

Namun, tak lama setelah itu, pihak berwenang Malaysia mengumumkan pencarian juga dilakukan di Laut Andaman, yang notebene jaraknya terpisah sejauh 400 mil.

Informasi yang beredar belakangan menyebut bahwa radar milik militer Malaysia sempat menangkap sinyal MH370 walau pesawat tersebut telah mematikan transponder dan hilang dari radar sipil.

Baca juga: Militer Malaysia: MH370 Terakhir Terlihat di Selat Malaka

Pada mulanya, pihak Malaysia membantah kabar yang menyebut MH370 terbang ke arah barat, atau berbelok 180 derajat dari arah semula.

Namun setelah satu minggu pencarian dilakukan di Laut China Selatan, pihak Malaysia mengakui bahwa mereka mengetahui kalau MH370 sempat berputar berlawanan arah yang seharusnya.

Melacak dengan "ping" satelit

Inmarsat, operator penyedia layanan komunikasi data yang juga dipakai oleh Malaysia Airlines,  pada saat itu mengetahui bahwa salah satu satelitnya yang kebetulan melintas di sekitar Samudera Hindia, menangkap sinyal (ping) yang dipancarkan MH370 selama tujuh jam setelah transponder pesawat dimatikan.

Menurut pihak Inmarsat, dengan menggunakan perhitungan matematika, serta handshake yang terjadi antara sistem di pesawat dengan satelit milik Inmarsat, pesawat diketahui mengirimkan lokasinya secara periodik.

Data yang digunakan adalah data burst frequency offset, atau disingkat BFO, yang merupakan salah satu aspek dari handshake satelit.

Baca juga: Inmarsat Ungkap Cara Melacak Posisi Terakhir Pesawat MH370

BFO dihitung dengan mengukur perubahan panjang gelombang sinyal yang ditentukan oleh posisi pesawat relatif terhadap satelit.

Handshake atau "ping" yang terjadi antara sistem komunikasi Inmarsat yang tertanam dalam B777 MH370 dengan salah satu satelit Inmarsat tersebut tidak mengandung data lokasi, melainkan hanya interval panjang gelombang saja, atau jarak yang menuju ke penjuru arah dari satelit berada.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.