Wabah Virus Corona, Sharp Produksi Masker di Pabrik TV

Kompas.com - 04/03/2020, 10:47 WIB
Penumpang mengenakan masker saat tiba di Bandara Internasional Narita, Tokyo, 23 Januari 2020. Kecemasan kian meningkat menyusul penyebaran virus corona yang semakin luas. AFP/CHARLY TRIBALLEAUPenumpang mengenakan masker saat tiba di Bandara Internasional Narita, Tokyo, 23 Januari 2020. Kecemasan kian meningkat menyusul penyebaran virus corona yang semakin luas.

KOMPAS.com - Pasokan masker di Jepang telah habis terjual di tengah wabah Covid-19. Perusahaan elektronik Sharp pun berinisiatif untuk mengubah kinerja pabrik televisi miliknya untuk memproduksi masker sebagai upaya menghadapi wabah virus corona.

Pabrik Sharp yang biasanya memproduksi display panel LCD untuk televis itu terletak di bagian wilayah timur Osaka. Rencananya hingga 150.000 masker akan diproduksi oleh pabrik ini dalam seminggu, untuk stok domestik di Jepang.

Langkah Sharp ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Jepang untuk memproduksi lebih banyak masker di Jepang. Perdana Menteri Shinzo Abe menjanjikan terdapat 600 juta masker yang akan tersedia setiap bulan.

Baca juga: Twitter Wajibkan 5.000 Karyawan Bekerja dari Rumah gara-gara Corona

Tetapi jenis masker bedah yang dibuat tidak terbukti melindungi terhadap penularan wabah. Masker-masker tersebut hanya melindungi dari partikel air (cairan tubuh) berukuran besar, tetapi tidak dapat menyaring udara secara efektif.

Dibandingkan masker bedah, masker respirator dinilai lebih baik dalam menyaring partikel udara dan jauh lebih efektif. Namun harga masker respirator meman lebih mahal. Masker harus dipasang dengan sempurna dan dipakai terus-menerus.

Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari BBC, Rabu (4/3/2020), Penasihat kesehatan Inggris mengatakan bahwa masker lebih berguna untuk para staf medis di rumah sakit,"Ada sangat sedikit manfaat masker bagi anggota masyarakat," tuturnya.

Baca juga: KawalCOVID19, Inisiatif Mengawal Informasi Virus Corona di Indonesia

Namun, kekhawatiran soal penyebaran virus corona membuat orang-orang di berbagai negara memborong masker sehingga stoknya menjadi langka di pasaran.

Ahli bedah Jenderal Jerome Adams dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pun memohon kepada orang-orang untuk berhenti membelinya.

"Masker-masker itu tidak efektif dalam mencegah penularan virus corona, tetapi jika penyedia layanan kesehatan tidak menggunakan masker saat merawat pasien yang sakit, itu akan membahayakan warga dan kita semua!" kicaunya dalam Twitter.

Baca juga: Rajin Bersihkan Ponsel Bisa Cegah Penularan Virus Corona, Begini Caranya

Hingga saat ini virus corona telah menyebar ke puluhan negara di dunia. Pada Senin (2/3/2020), terdapat dua pasien Indonesia yang positif terinfeksi corona, sementara pada hari Minggu (1/3/2020) lalu pertama kali satu pasien virus corona di AS meninggal dunia.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Sumber BBC
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X