Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tips Mencegah Serangan Siber Saat Kerja dari Rumah

Kompas.com - 05/05/2020, 16:39 WIB

KOMPAS.com - Sebagian besar negara di seluruh dunia saat ini mengimbau warganya untuk bekerja dari rumah, selama pandemi Covid-19 berlangsung. Walhasil, penggunaan internet dan berbagai layanan software pendukung pekerjaan menjadi meningkat signifikan.

Ternyata, peningkatan itu juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber. Menurut laporan dari perusahaan teknologi komputasi IBM X Force, sejak WHO mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret, laporan spam terkait Covid-19 naik 6.000 persen.

Staf Ahli Menteri Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Henri Subiakto juga mengatakan bahwa potensi serangan siber di Indonesia cukup besar, selama aturan kerja dan belajar dari rumah berlaku.

Baca juga: 7 Tips Aman Berinternet Saat Harus Bekerja dari Rumah

"Kalau di kantor aman, karena ada sistem IT. Tapi ketika di rumah itu terbuka, makanya kemungkinan terkena kejahatan (siber) semakin besar," kata Henri.

Kendati demikian, ada beberapa tip yang bisa dilakukan untuk meminimalisir serangan siber saat bekerja dari rumah.

Menggunakan software berlisensi

Hal paling dasar dan penting adalah menggunakan software legal atau berlisensi, di perangkat yang digunakan untuk bekerja.

Menurut Tarun Sawney, Senior Director, Business Software Alliance (BSA), aliansi konsultan hukum industri software global, menggunakan produk software berlisensi akan memberikan cukup rasa aman.

Sebab, software berlisensi dibuat oleh perusahaan bereputasi tinggi yang sangat memperhitungkan kualitas produk.

"Jika mereka mengetahui adanya potensi serangan siber, mereka akan berupaya membuat pencegahan, tapi jika tetap terjadi serangan, mereka akan segera memperbaikinya," kata Tarun dalam sebuah konferensi pers daring, Selasa (5/5/2020).

Ia pun menyarankan agar perusahaan mengunakan software level bisnis, bukan consumer software, yang tingat keamanannya lebih rendah dibanding level bisnis. Tarun mengakui bahwa software legal tidak luput dari celah keamanan.

Baca juga: Indonesia Diancam Sanksi Dagang AS karena Film Bajakan, Ini Saran KADIN

Namun ia mengatakan, perusahaan pembuat software akan lebih bertanggung jawab jika ada potensi serangan keamanan terhadap produk software buatannya. Hal ini lebih baik ketimbang mengginakan software ilegal atau tidak berlisensi.

Tarun juga menekankan, perusahaan harus mau dan bisa mengedukasi karyawannya untuk mengidentifkasi setiap potensi serangan siber.

Password dan aplikasi menyeluruh

Henri yang juga bergabung dalam konferensi daring ini, memberikan tips lain. Ia menyarankan agar setiap platform yang digunakan termasuk perangkat keras, dilindungi dengan password yang kuat.

"Ganti password secara berkala, dan kalau membuat password mohon tidak mudah ditebak, seperti menggunakan tanggal lahir dan sebagainya," papar Henri.

Baca juga: Tips Membuat Password Paling Aman dari Pakar Sekuriti

Ia juga meminta agar masyarakat lebih hati-hati saat membuka e-mail atau kotak masuk di media sosial lain. Terutama yang melampirkan tautan mencurigakan, yang bisa saja berisi malware.

"Selain menggunakan software yang legal, harus mempelajari juga aplikasi yang kita pakai secara tuntas, bagaimana cara menggunakannya supaya tidak mudah bocor, atau mudah diakses oleh orang yang tidak diundang sebagai partisipan," jelas Henri.

Dalam hal tersebut, Henri mencontohkan kasus zoombombing yang sempat terjadi saat rapat daring Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, di tengah-tengah rapat, partisipan tidak diundang tiba-tiba masuk dan menyebar konten berbau pornografi.

Henri juga meminta masyarakat agar tidak sembarangan memberikan atau mencantumkan data pribadi di platform terbuka, karena bisa menjadi pintu masuk pelaku kejahatan mencuri data pribadi.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.