Serangan Siber Meningkat Jelang Pilpres AS

Kompas.com - 14/09/2020, 18:07 WIB
ilustrasi hacker shutterstockilustrasi hacker

KOMPAS.com - Microsoft mengklaim bahwa terjadi peningkatan serangan cyber oleh peretas ( hacker) yang bekerja untuk Rusia, China, dan Iran, jelang pemilihan presiden (Pilpres) di AS. 

Kabar ini disampaikan oleh Vice President of Customer Security and Trust Microsoft, Tom Burt lewat blog resmi Microsoft yang diunggah pada Kamis (10/9/2020).

Dalam blog tersebut, Tom Burt mengatakan bahwa hal itu berdasar penelitian yang dilakukan oleh para ahli keamanan di Microsoft.

"Dalam beberapa minggu terakhir, Microsoft mendeteksi serangan siber yang menargetkan orang dan organisasi yang terlibat dalam pemilihan Presiden mendatang," tulis Burt.

Baca juga: Donald Trump Dikerjai Warga TikTok, Kampanye Pilpres Jadi Sepi

Microsoft juga menemukan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, ada peningkatan aktivitas dari kelompok Rusia, yang mencoba menggunakan kombinasi nama pengguna dan kata sandi lama pada hampir 7.000 akun.

Percobaan peretasan ini dilakukan sejak 18 Agustus hingga 3 September 2020. Beberapa di antaranya berkaitan dengan pemilihan umum AS, namun Microsoft mengklaim hingga saat ini belum ada yang berhasil.

Salah satu target yang diretas adalah sebuah firma konsultan hukum Washington, yang bekerja untuk kampanye Joe Biden, bernama SKDKnickerbocker.

Berdasarkan laporan Reuters, Microsoft baru-baru ini telah mengingatkan perusahaan tersebut bahwa ada intelijen Rusia yang telah mengirim e-mail phishing ke SKDKnickerbocker.

E-mail phishing tersebut dapat mencuri informasi login yang dapat memberikan akses ke dokumen atau sistem pribadi.

Menurut Burt, Rusia sedang menargetkan lebih dari 200 organisasi yang di antaranya memiliki hubungan dan berafiliasi dengan pemilu AS atau kebijakan Eropa, termasuk konsultan untuk kedua partai besar AS.

Baca juga: Kampanye Trump di Pilpres AS 2020 Terancam Direcoki Hacker Iran

Sementara, direktur analisis intelijen di Mandiant Solutions, John Hultquist menjelaskan bahwa target para hacker itu adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan kampanye Joe Biden dan Presiden Donald Trump.

"Intelijen militer Rusia yang kami yakini merupakan ancaman terbesar bagi proses demokrasi ini," tutur Hultquist melalui pesan tertulis.

Kampanye pemilihan Presiden AS sendiri telah berjalan sekitar dua bulan. Sedangkan Pemilihan umum Presiden AS 2020, dijadwalkan pada Selasa, 3 November 2020. Ini akan menjadi pemilihan umum Presiden AS empat tahunan yang ke-59. 

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X