Hari Ini 6 Tahun yang Lalu, Pesawat Indonesia AirAsia QZ8501 Jatuh

Kompas.com - 28/12/2020, 08:32 WIB
Anggota Batu Profesional Tourism Association (Bapta) dan wisatawan melakukan doa bersama untuk penumpang AirAsia QZ8501 di Alun-alun Kota Batu, Jatim, Selasa (30/12/2014). Pesawat AirAsia QZ8501 mengangkut 155 penumpang serta 7 kru, jatuh pada Minggu pagi, saat penerbangan dari Surabaya ke Singapura. SURYA / HAYU YUDHA PRABOWOAnggota Batu Profesional Tourism Association (Bapta) dan wisatawan melakukan doa bersama untuk penumpang AirAsia QZ8501 di Alun-alun Kota Batu, Jatim, Selasa (30/12/2014). Pesawat AirAsia QZ8501 mengangkut 155 penumpang serta 7 kru, jatuh pada Minggu pagi, saat penerbangan dari Surabaya ke Singapura.

KOMPAS.com - Hari ini menandai tepat enam tahun peristiwa jatuhnya pesawat Airbus A320 yang dioperasikan Indonesia AirAsia, di Selat Karimata.

Pesawat Airbus A320 dengan nomor penerbangan QZ8501 rute Surabaya- Singapura hilang kontak setelah sekitar 50 menit lepas landas dari bandar udara Juanda Surabaya, Minggu (28/12/2014).

Penyelidikan yang diungkap KNKT menyebut pesawat jatuh sambil berputar dari ketinggian 38.000 kaki. Data tersebut diungkap dari rekaman ADS-B yang diperoleh KNKT. Rekaman ADS-B itu mengandung data posisi longitudinal dan lateral pesawat.

Data surveillance dari pesawat Indonesia AirAsia PK-AXC QZ8501 pada Minggu (28/1/2015) pagi.ist Data surveillance dari pesawat Indonesia AirAsia PK-AXC QZ8501 pada Minggu (28/1/2015) pagi.
Diketahui pada pukul 23.17 UTC (atau 06.17 WIB), di detik ketika pesawat mulai menanjak, heading pesawat mulai berbelok dari semula 310 derajat (barat laut), menjadi berbelok ke kiri menuju heading 270 derajat (barat).

Pada puncak ketinggian jelajah yang dicapai QZ8501, yaitu 37.600 kaki, heading pesawat kemudian berbelok lagi ke kiri.

Heading pesawat sempat berputar balik dari arah semula 310 derajat (barat laut) ke arah sekitar 130 derajat (tenggara).

Berputarnya arah pesawat itu disertai dengan proses pesawat kehilangan ketinggian atau jatuh dengan kecepatan 11.000 kaki hingga maksimum 24.000 kaki per menit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pesawat dengan registrasi PK-AXC tersebut mengangkut 155 penumpang dan 7 kru terbang sekitar pukul 05.30 WIB. Pesawat hilang kontak saat berada di airway M635 pukul 06.18 WIB.

Baca juga: Terungkap, AirAsia QZ8501 Jatuh Sambil Berputar

Kronologi

Sebelumnya, kapten penerbangan yang saat itu bertindak sebagai pilot monitoring meminta izin ATC Makassar (Ujung Control) untuk menyimpang ke kiri 15 nautical miles dari jalur yang seharusnya, karena di depan ada awan comulonimbus (CB), awan tebal yang harus dihindari.

ATC Makassar memberi izin. Saat itu QZ8501 terbang di ketinggian jelajah 32.000 kaki.
Tak berapa lama, saat pesawat memasuki ruang udara yang dikontrol oleh ATC Jakarta (Jakarta Upper Control), pilot pun memberitahu bahwa rute mereka sedikit menyimpang untuk menghindari awan CB.

ATC Jakarta mengidentifikasi QZ8501 di layar radar mereka dan meminta awak QZ8501 melapor jika sudah lewat dari cuaca buruk di depannya.

Tak berapa lama, pilot meminta izin kepada ATC Jakarta untuk menaikkan ketinggian jelajah pesawat dari 32.000 kaki ke 38.000 kaki.

ATC Jakarta meminta kru QZ8501 standby untuk diberi izin. Empat menit kemudian, ATC Jakarta memberi izin QZ8501 untuk naik ke ketinggian 34.000 kaki terlebih dahulu, alih-alih langsung menuju 38.000 kaki sesuai yang diminta pilot.

Namun setelah memberikan izin (clearance), awak QZ8501 tidak merespon. ATC Jakarta pun mencoba memanggil QZ8501 berkali-kali, bahkan sampai meminta traffic (pesawat lain) di dekatnya untuk mengontak QZ8501, namun usaha itu sia-sia. QZ8501 hilang kontak, dan kedipan posisinya menghilang dari radar pada pukul 06.18 WIB.

Menurut rekaman data ADS-B (radar sekunder pesawat), pesawat terdeteksi berada di ketinggian 28.000 kaki dan berada di sebelah tenggara pulau Belitung, di selat Karimata.

Baca juga: Foto Komponen Retak AirAsia QZ8501 yang Jatuh

Pencarian serpihan dan kotak hitam

Pencarian besar-besaran pun dilakukan. Badan SAR Nasional dibantu oleh TNI dan Polri, serta bantuan dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, mencari serpihan badan pesawat yang diperkirakan jatuh di dasar laut.

Pesawat QZ8501 ditemukan pada Selasa (30/12/2014) atau dua hari setelah hilang dari pantauan radar. Saat itu, tim gabungan menemukan serpihan pesawat AirAisa QZ8501 berikut jenazah penumpang di perairan dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Perangkat black box juga berhasil dideteksi lokasinya, 15 hari setelah QZ8501 hilang dan serpihannya ditemukan di Selat Karimata di Laut Jawa.

Adalah Kapal KN Jadayat yang berhasil menemukan lokasi black box atau kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 pada Minggu (11/1/2015).

Peta area pencarian pesawat AirAsia QZ8501.BASARNAS Peta area pencarian pesawat AirAsia QZ8501.

KN Jadayat memiliki perangkat pinger locator dan robotic operated vehicle yang mampu mengambil visual gambar di dasar laut. Pada 7 Januari 2015 pukul 08.30 WIB, alat pinger locator menangkap sinyal kotak hitam.

Namun setelah ditemukan sinyal, pencarian sempat tertunda karena kondisi cuaca. Hingga pada 11 Januari 2015, sinyal ping yang diterima oleh ping locater menunjukkan sinyal beacon black box terkuat pada titik yang dimaksud.

Puing-puing AirAsia QZ8501.MINDEF Singapore Puing-puing AirAsia QZ8501.

Pada Senin, 12 Januari 2015 pukul 05.00, KN Jadayat kembali bergerak ke lokasi, penyelaman pertama mengarah ke bagian ekor C.77, pada 07.15 WIB tim penyelam kedua, yakni Serda Rajab Suwarno dari Dinas Selam Bawah Air Armada Timur (Armatim) berhasil mengangkat salah satu bagian kotak hitam, yakni flight data recorder (FDR).

Pada pukul 09.10 WIB, kotak hitam dibawa ke KRI Banda Aceh oleh KNKT. Kemudian pada 13 Januari 2014, tim kembali menemukan cockpit voice recorder (CVR) di sekitar 15-20 meter ke arah barat daya ditemukannya FDR.

Petugas menunjukkan cockpit voice recorder (CVR) yang merupakan bagian kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 di Kantor Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Jakarta, Selasa (13/1/2015). CVR tersebut salah satu bagian kotak hitam yang berisi percakapan pilot dan kopilot.KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Petugas menunjukkan cockpit voice recorder (CVR) yang merupakan bagian kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 di Kantor Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Jakarta, Selasa (13/1/2015). CVR tersebut salah satu bagian kotak hitam yang berisi percakapan pilot dan kopilot.

Analisis data kotak hitam

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bekerja sama dengan biro penyelidik kecelakaan pesawat Perancis BEA (negara asal Airbus), melakukan penyelidikan dan menyusun laporan.

Kurang dari satu tahun setelah perangkat perekam ditemukan, tepatnya 11 bulan 27 hari, KNKT merilis laporan akhir (Final Report) kecelakaan Airbus A320 PK-AXC nomor penerbangan QZ8501, dan berikut adalah laporannya.

KNKT menemukan data dari FDR bahwa selama penerbangan QZ8501, lampu Master Caution menyala akibat peranti Rudder Travel Limiter yang tidak berfungsi, dan menampilkan pesan teks di monitor pesawat, bahwa peranti untuk membatasi pergerakan rudder (sayap tegak pesawat di belakang) malfungsi.

Master Caution dan pesan tersebut muncul sebanyak 4 kali berturut-turut. Pada peringatan pertama hingga ketiga, pilot melakukan troubleshooting masalah sesuai dengan prosedur yang ditampilkan oleh komputer pesawat (ECAM/Electronic Centralized Aircraft Monitoring).

Namun saat peringatan keempat muncul, data yang dicatat FDR menunjukkan bahwa kru pesawat mengambil tindakan lain untuk mengatasi masalah pesan yang muncul berulang-ulang tadi.

Berdasar data FDR, kru pesawat melakukan hal yang berbeda, yang parameternya mirip dengan apa yang terjadi tiga hari sebelumnya, 25 Desember 2014, manakala kedua CB (circuit breaker/sekring) komputer pesawat FAC (Flight Augmentation Computer) dilepas dan dipasang lagi saat di darat. Tindakan ini dilakukan untuk mereset komputer.

FDR pun mencatat peringatan kelima dan keenam yang muncul, yaitu peringatan yang menunjukkan bahwa komputer FAC 1 dan FAC 2 tidak berfungsi.

Tentang FAC sendiri, Airbus memiliki dua komputer FAC yang fungsinya adalah memberikan proteksi terhadap perilaku pesawat. Komputer tersebut membatasi gerak rudder (kendali serong), aileron (kendali guling), dan elevator (kendali angkat).

Jika kedua FAC itu mati, pesawat masih bisa terbang seperti biasa, hanya saja tidak ada komputer yang membatasi pergerakan pesawat. Autopilot dan Autothrust pun menjadi tidak berfungsi. Pilot harus menerbangkan pesawat secara manual sepanjang penerbangan.

Baca juga: Beredar Video Pesawat AirAsia Bergoncang Hebat Seperti Mesin Cuci

Bukan kerusakan serius

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X