5 Perusahaan Teknologi yang Melantai di Bursa Saham Sepanjang 2021

Kompas.com - 20/12/2021, 09:10 WIB

Pada perdagangan perdana, harga saham Coinbase dibuka pada angka 381 dollar AS per saham atau sekitar Rp 5,5 juta (kurs Rp 14.600).

Pada penutupan perdangana hari Rabu (14/4/2021), saham Coinbase diperdagangkan di level 328,28 dollar AS (sekitar Rp 4,8 juta).

Dengan harga tersebut, nilai kapitalisasi pasar Coinbase tercatat mencapai 85,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.250 triliun.

Pada sesi perdagangan Kamis (16/12/2021), saham COIN terpantau diperdagangkan di level 247,17 dollar AS per lembar saham. Atau turun 24,71 persen bila dibandingkan dengan harga saham saat pertama kali diperdagangkan di bursa.

3. Bukalapak (Juli 2021)

Perusahaan teknologi ketiga yang melantai di bursa saham pada tahun 2021 adalah Bukalapak. Nama Bukalapak resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Agustus 2021 dengan kode saham "BUKA".

Peristiwa ini juga menjadi pencapaian tersendiri bagi Bukalapak. Pasalnya, Bukalapak menjadi startup Indonesia dengan status unicorn pertama yang resmi melangsungkan penawaran umum perdana (IPO).

Baca juga: Bukalapak Resmi Melantai di BEI Hari Ini, Saham BUKA Naik 25 Persen

Saham Bukalapak (BUKA) pertama kali ditawarkan kepada masyarakat dengan harga Rp 850 per lembar saham pada periode 27-30 Juli 2021.

Dalam IPO tersebut, Bukalapak menawarkan paling banyak 25.765.504.851 (sekitar 25,7 miliar) lembar saham kepada masyarakat.

Angka tersebut mewakili 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan setelah IPO. Jika dikalkulasikan, maka jumlah pendanaan yang diterima Bukalapak dalam IPO ini mencapai sekitar Rp 21,9 triliun.

Saat masa penawaran saham tersebut, minat investor terhadap saham BUKA dilaporkan cukup tinggi.

Kabarnya, Bukalapak diestimasi bisa meraup dana hingga 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 21,8 triliun (kurs Rp 14.550) setelah melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Angka itu didapat setelah perusahaan menetapkan batas atas kisaran awal (indicative price range), yang diungkap oleh tiga orang sumber dalam kepada Reuters.

Bahkan, saking "tingginya" minat investor, salah satu sumber menyebut permintaan pesanan saham di IPO Bukalapak mencapai lebih dari 6 miliar dollar AS (sekitar Rp 87,2 triliun).

Menurut pantauan KompasTekno, setelah IPO, harga saham BUKA sempat menyentuh harga tertinggi ke level Rp 1.110 pada 9 Agustus 2021.

Namun, setelah itu, harga saham Bukalapak konsisten mengalami penurunan. Pada akhir sesi perdagangan Jumat (17/12/2021), saham BUKA ditutup di level Rp 466 per lembar saham atau turun 23,61 persen dari harga saat saham pertama kali diperdagangkan di bursa.

4. Mitratel (November 2021)

Anak usaha Telkom, Mitratel, memiliki portofolio berupa lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Dok. Humas Telkom Anak usaha Telkom, Mitratel, memiliki portofolio berupa lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Perusahaan teknologi Indonesia yang menyusul Bukalapak melakukan IPO adalah Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk).

Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) yang bergerak di bisnis menara telekomunikasi itu, resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham MTEL pada 22 November 2021.

Saham MTEL ditawarkan dengan harga Rp 800 per lembar saham. Adapun jumlah saham yang dilepas ke publik ialah sebanyak 23,4 miliar lembar saham dengan nilai keseluruhan mencapai Rp 18,7 triliun.

Hampir sebulan pasca IPO, saham MTEL kini diperdagangkan di level Rp 785 per lembar saham, pada akhir sesi perdagangan Jumat (17/12/2021).

Baca juga: Pengalihan 6.050 Menara BTS Telkomsel ke Mitratel Rampung

Sedikit tentang Mitratel, sejak berdiri pada 2008, anak usaha Telkom ini telah mengelola lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain bisnis utamanya di bidang menara telekomunikasi, Mitratel juga melakukan ekspansi portfolio jasa turunan menara seperti project solutions, managed services, Fiberisasi dan digital services untuk mengakselerasi iklim digital di Indonesia.

5. Grab (Desember 2021)

Platform layanan on demand, Grab, menampilkan foto perwakilan mitra asal Indonesia di Menara NASDAQ, New York, Amerika Serikat (AS), Kamis (2/12/2021).Dok Humas Grab Platform layanan on demand, Grab, menampilkan foto perwakilan mitra asal Indonesia di Menara NASDAQ, New York, Amerika Serikat (AS), Kamis (2/12/2021).
Lalu, di penghujung 2021 ini, Grab akhirnya resmi resmi melantai di bursa saham Nasdaq, New York, Amerika Serikat pada Kamis (2/12/2021).

Di Nasdaq, perusahaan SuperApp terbesar di Asia Tenggara, Grab Holdings tercatat denan kode (ticker) saham "GRAB".

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.