Dalam Semalam, Instagram Kehilangan 80 Juta Pengguna di Rusia

Kompas.com - 15/03/2022, 09:31 WIB

KOMPAS.com - Roskomnadzor, lembaga eksekutif federal Rusia yang mengurus media elektronik, komunikasi massa, dan teknologi informasi, resmi memblokir Instagram di negara tersebut.

Platform monitor internet GlobalCheck juga mengonfirmasi bahwa aplikasi itu tidak dapat diakses dari Rusia per Senin (14/3/2022) waktu setempat.

Dengan pemblokiran oleh pemerintah Rusia ini, Instagram diperkirakan kehilangan 80 juta pengguna dari negara tersebut dalam waktu semalam.

Baca juga: Rusia Disebut Pakai Influencer TikTok untuk Sebar Propaganda

Dalam postingan blog, Roskomnadzor mengatakan bahwa keputusan blokir Instagram merupakan tanggapan kebijakan Meta yang mengizinkan postingan konten kekerasan pasukan Rusia di Facebook dan Instagram.

Mereka sebelumnya juga telah memberikan waktu 48 jam bagi pengguna Instagram di Rusia, untuk memindahkan foto maupun video ke jejaring sosial lain yang tersedia di Rusia

Atas keputusan blokir terbaru ini, Head of Instagram, Adam Mosseri mengecam pemerintah Rusia dan menyebut kebijakan blokir sebagai keputusan yang keliru.

"Keputusan ini akan memutus akses Instagram terhadap sekitar 80 juta orang Rusia untuk bersosialisasi dengan akun lainnya. Padahal, 80 persen akun Instagram yang berasal dari Rusia mengikuti (follow) akun Instagram yang berasal dari luar negara mereka," kata Mosseri.

Dihimpun KompasTekno dari Android Central, Selasa (15/3/2022), meski diblokir, aplikasi Facebook maupun Instagram konon masih dapat diakses di Rusia dengan menggunakan VPN.

Baca juga: Simbol Huruf Z di Tank Rusia yang Serbu Ukraina, Ini Arti dan Fungsinya

Sejauh ini aplikasi Meta yang diblokir Rusia adalah Facebook dan Instagram, karena membatasi konten Rusia. Belum diketahui apakah WhastApp juga direncanakan blokir atau tidak mengingat aplikasi ini juga berada di bawah naungan Meta.

Instagram sendiri menjadi aplikasi terbaru yang diblokir pemerintah Rusia. Sebelumnya, pemerintah Rusia memblokir Facebook sebagai anak perusahaan Meta, serta Twitter karena membatasi negaranya dari layanan perusahaan.

Meta dan Twitter memang membatasi postingan dari akun outlet media yang didukung pemerintah Rusia. Selain itu, Meta dan Twitter juga memblokir iklan dari akun-akun media Rusia tersebut.

Rusia juga menyebut Meta sebagai organisasi ekstremis, karena kebijakannya terhadap Rusia. Namun President Global Affair Meta, Nick Clegg berkata bahwa upaya itu ditujukan untuk melindungi "hak orang untuk berbicara sebagai ekspresi pembelaan diri".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.