Induk Perusahaan TikTok Tuduh Facebook Plagiat

Kompas.com - 04/08/2020, 13:14 WIB
Ilustrasi TikTok androidpolice.comIlustrasi TikTok

KOMPAS.com - Induk perusahaan TikTok, ByteDance, menuding bahwa Facebook telah melakukan tindakan plagiarisme dan kotor.

Pernyataan tersebut diungkapkan pihak ByteDance saat mengeluhkan betapa kompleks dan banyaknya tekanan TikTok untuk menjadi perusahaan global.

"Lingkungan politik internasional yang intens, benturan konflik dan perbedaan budaya, dan kompetitor Facebook yang plagiat dan kotor," ungkap pihak ByteDance.

ByteDance sendiri tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari pernyataannya yang menuduh Facebook sebagai plagiat tersebut.

Namun sebagaimana diketahui, Facebook sendiri beberapa waktu lalu meluncurkan layanan berbagi video pendek bernama Lasso.

Baca juga: TikTok Ditawar Investor Rp 725 Triliun?

Layanan ini bisa dibilang mirip dengan TikTok. Lasso juga memungkinkan pengguna merekam dan megunggah video pendek berdurasi 15 detik dengan latar belakang musik.

Kendati demikian, usia Lasso tak bertahan lama. Belum juga dirilis secara global, Facebook menutup Lasso awal Juli lalu tanpa alasan yang jelas.

Selain itu, Facebook juga turut menghadirkan fitur serupa di Instagram yang bernama Reels. Saat ini, Reels baru tersedia di beberapa negara seperti Brasil, Perancis, dan Jerman.

Pada Mei lalu, CEO TikTok, Kevin Meyer, mengatakan hal serupa. Ia mengatakan bahwa Lasso dan Reels adalah dua layanan yang meniru TikTok.

"Kami pikir kompetisi yang fair bisa membuat kita lebih baik. Bagi mereka yang ingin meluncurkan produk serupa TikTok, silakan saja. Facebook bahkan merilis produk hasil tiruan lain, Reels, setelah Lasso gagal dengan cepat," kata Kevin.

Tudingan tersebut dilontarkan sebelum Microsoft mengonfirmasi itikadnya untuk membeli TikTok yang beroperasi di wilayah Amerika Serikat.

Baca juga: Microsoft Benarkan Rencana Akuisisi TikTok

Diketahui, CEO Microsoft, Satya Nadella telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump untuk merundingkan kemungkinan membeli TikTok di AS. Microsoft juga berencana membeli TikTok di Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Sebelumnya, Trump lebih dulu mengancam akan memblokir TikTok di Amerika dengan dalih mengancam keamanan nasional.



Sumber CNBC
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X