FBI Ingatkan Bahaya "Vishing" Mengintai Karyawan yang Kerja dari Rumah

Kompas.com - 25/01/2021, 14:07 WIB
Video Call Facetime Chatting Communication Concept RawpixelVideo Call Facetime Chatting Communication Concept

KOMPAS.com - Selama masa pandemi Covid-19, kebanyakan karyawan bekerja dengan metode jarak jauh (work from home/WFH) dengan mengandalkan video ataupun voice call untuk berkomunikasi hingga meeting.

Masifnya penggunaan panggilan video ataupun suara selama pandemi ini ternyata ikut dimanfaatkan oleh para penjahat siber (cyberciminal) untuk melakukan "vishing" alias voice phising.

Sesuai namanya, vishing adalah upaya manipulasi psikologis di mana penjahat menghubungi korban melalui video atau voice call, dengan berpura-pura menjadi orang -misalnya staf TI- dari perusahaan tempat kerja atau pihak resmi lainnya.

Baca juga: Kejahatan Siber di Indonesia Naik 4 Kali Lipat Selama Pandemi

Tujuannya adalah menggali informasi tertentu, biasanya kredensial login. Biro Investigasi Federal AS (FBI) mengingatkan bahwa cybercriminal belakangan makin sering menggunakan vishing untuk mendapat akses ke data sensitif perusahaan.

Menurut FBI dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), pada pertengahan Juli 2020, para kriminal siber melancarkan serangan vishing besar-besaran dengan sasaran karyawan perusahaan AS yang bekerja dari rumah.

Para aktor ini mencuri kredensial untuk login ke jaringan-jaringan korporasi, lalu menjual informasi tersebut ke kelompok kriminal lain.

Cara kerja vishing

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagaimana dihimpun dari ZDnet, FBI dan CISA mengungkapkan sebelum melancarkan serangan vishing, para penjahat ini akan melakukan beberapa persiapan terlebih dahulu.

Pertama, mereka akan membuat situs palsu dengan domain yang mirip dengan perusahaan tempat sang korban bekerja.

Para penjahat kemudian membuat situs phising di domain tersebut, yang didesain agar semirip mungkin dengan halaman login di jejaring internal perusahaan, sehingga kerap kali korban tidak menyadari sedang ditipu.

Situs phising itu mampu mengumpulkan otentikasi dua faktor (2FA), biasanya berupa password akun dan kode khusus yang dikirim melalui SMS. Selain itu, situs phising ini juga bisa mengumpulkan kode One Time Password atau OTP sekali pakai.

Halaman:


Sumber ZDNet
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X