Dicoding Gelar Program Beasiswa Back-end Developer, Begini Cara Daftarnya

Kompas.com - 21/03/2021, 13:02 WIB
Ilustrasi programmer. IstimewaIlustrasi programmer.

KOMPAS.com - Startup edukasi teknologi Dicoding, meluncurkan program beasiswa bertajuk "Back-end Developer Learning Path" yang ditujukan bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuannya sebagai back-end developer.

Dalam program ini, Dicoding bekerja sama dengan salah satu perusahaan komputasi awan kenamaan dunia, Amazon Web Service (AWS).

Program ini akan menyediakan kurikulum back-end development yang disajikan secara komprehensif dalam Bahasa Indonesia dan bisa diakses peserta dari seluruh Indonesia.

Hal tersebut akan memudahkan peserta didik utnuk memahami materi yang diberikan. Back-end Developer Learning Path juga dirancang untuk mempersiapkan peserta mengikuti dua sertifikasi AWS, yakni Certified Cloud Practitioner dan AWS Certified Solutions Architect-Associate.

Nantinya, akan ada enam kelas yang terdiri dari, AWS Cloud Practitioner Essentials (Belajar AWS Dasar Cloud), Belajar Dasar Pemrograman JavaScript, dan Belajar Membuat Aplikasi Back-End untuk Pemula.

Baca juga: Amazon Buka Lowongan Kerja Pertama 26 Tahun Lalu, Profesi Apa yang Dicari?

Ada pula kelas Architecting on AWS (Membangun Arsitektur AWS di Cloud), Belajar Fundamental Aplikasi Back-End, dan Menjadi Back-End Developer Expert.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Program ini menawarkan alur pembelajaran konten digital dengan sistem belajar mandiri bagi para developer agar mampu meningkatkan kemampuan dan kompetensi mereka di bidang back-end dan komputasi awan.

Nantinya, pemahaman peserta akan dinilai melalui metode code review yang dilakukan oleh instruktur Dicoding dan para ahli di bidang komputasi awan. Alur pembelajaran ini bisa menjadi pilihan bagi para developer profesional, guru IT, dosen, dan mahasiswa.

"Kita seringkali melupakan bahwa kesiapan talenta digital di bidang back-end development adalah kunci untuk menyokong jumlah pengguna internet dan ragam kebutuhan mereka dalam perekonomian digital yang terus bertumbuh di Indonesia," jelas Narenda Wicaksono, Chief Executive Officer Dicoding melalui keterangan resmi kepada KompasTekno, Minggu (21/3/2021).

Ketersediaan talenta digital di Indonesia memang masih minim. Berdasarkan laporan "Unlocking APAC's Digital Potential: Changing Digital Skill Needs and Policy Approaches" pada 2021, hanya 19 persen dari pekerja di Indonesia yang memiliki ketrampilan digital.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.