Ketika Pusat Internet Indonesia Tumbang Diamuk Si Jago Merah

Kompas.com - 04/12/2021, 08:05 WIB
Kebakaran terjadi di Gedung Cyber di Jalan Kuningan Barat Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kamis (2/12/2021), siang. KOMPAS.com/Muhamad Isa BustomiKebakaran terjadi di Gedung Cyber di Jalan Kuningan Barat Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kamis (2/12/2021), siang.

KOMPAS.com - Insiden kebakaran dapat terjadi secara tiba-tiba dimanapun dan kapanpun. Namun, apa jadinya bila kebakaran terjadi di pusat internet Indonesia?

Misalnya seperti yang terjadi baru-baru ini. Kebakaran terjadi di Gedung Cyber 1 yang terletak di Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis, (2/12/2021). Si jago merah dilaporkan mulai melahap sebagian gedung sekitar pukul 12.35 WIB.

Gedung Cyber 1 sendiri merupakan salah satu lokasi penting dalam arus lalu lintas internet di Indonesia. Tak ayal, insiden kebakaran di Gedung Cyber ini menyebabkan gangguan pada sejumlah layanan internet di Indonesia pada Kamis siang. Apa saja?

Rumah bagi data center Indonesia

Sebelum itu, perlu diketahui dulu sebenarnya apa itu Gedung Cyber 1 dan mengapa gedung ini bisa menjadi sebab gangguan layanan internet pada Kamis lalu.

Gedung Cyber 1 beralamat lengkap di Jalan Kuningan Barat Raya Nomor 8, RT 1 RW 3, Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Selama ini, Gedung Cyber 1 ini dikenal sebagai lokasi penting dalam arus lalu lintas internet di Tanah Air. Pasalnya, gedung ini menjadi salah satu pusat berkumpulnya data center (pusat data) dan server milik sejumlah perusahaan teknologi di Indonesia.

Baca juga: Kebakaran di Gedung Cyber Kuningan, Layanan Internet dan Web Hosting Terdampak

Karena itu, di gedung ini pula-lah banyak terjadi pertukaran data (exchange) koneksi internet dari aplikasi atau layanan yang digunakan pengguna di Indonesia.

Ilustrasi data centerShutterstock Ilustrasi data center
Ada beberapa perusahaan yang menempatkan data center di Gedung Cyber 1.

Pertama ada Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), organisasi internet ini memiliki data center di Gedung Cyber yang digunakan untuk menggelar layanan Indonesia Internet Exchange (IIX).

Menurut GM IT Operation KGMedia Murfi A. Hatumena, IIX sendiri adalah wadah untuk menyatukan seluruh konektivitas yang dioperasikan oleh penyedia layanan internet/internet service provider (ISP) ke dalam satu jaringan yang sama, yang mana dikelola oleh APJII.

Sebelum adanya IIX, trafik konten yang diakses pengguna internet Indonesia harus terlebih dahulu terhubung dengan jaringan yang ada di luar negeri. Hal itu mengakibatkan proses penerimaan konten memakan waktu yang lebih lama dan juga menambah ongkos pengeluaran ISP untuk trafik.

Baca juga: Trafik Internet Indonesia Melonjak

Sebagai contoh, ketika mengirim Anda mengirim e-mail ke teman di sebelah Anda. Sebelum ada IIX, dulu alurnya adalah e-mail itu harus dikirim terlebih dahulu ke server di luar negeri. Setelah itu, dari server luar negeri baru dikirimkan lagi ke server di Indonesia. Lalu, terakhir e-mail itu baru sampai ke teman Anda.

Dengan layanan Indonesia Internet Exchange, interkoneksi antar-ISP di Indonesia semakin tinggi karena berkumpul di satu jaringan, serta bisa mereduksi trafik dari Indonesia yang lari ke luar negeri.

APJII sendiri dilaporkan memiliki 15 titik Indonesia Internet Exchange per April 2021, yang mana salah satunya terletak di Jakarta, tepatnya di Gedung Cyber 1.

Tidak diketahui secara pasti berapa ISP yang mengikuti layanan IIX yang dikelola APJII. Namun, pada Buletin APJII Edisi 85 yang dipublikasi pada April 2021, sejumlah nama pemain global yang bergabung dengan IIX, adalah Alibaba, Akamai, Facebook, dan Google.

Sementara untuk anggota, organisasi internet Indonesia ini dilaporkan memiliki 500 ISP yang terdaftar, menurut data APJII per Januari 2021,

Perusahaan kedua dan ketiga yang memiliki data center di Gedung Cyber adalah Niagahoster dan Rumahweb Indonesia. Keduanya merupakan penyedia web hosting di Indonesia.

Sebagai penyedia web hosting, Niagahoster dan Rumahweb Indonesia sudah digunakan untuk mendirikan website oleh ratusan ribu klien asal Indonesia.

Menurut data di situs resmi keduanya, hingga saat ini, Niagahoster disebutkan sudah memiliki lebih dari 500.000 klien terdaftar, sedangkan Rumahweb Indonesia memiliki lebih dari 155.000 klien.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.