YouTube Perluas Cara Monetisasi untuk Kreator

Kompas.com - 07/02/2019, 19:52 WIB
Ilustrasi YouTubeIst Ilustrasi YouTube

KOMPAS.com - Tahun 2018 menjadi tahun yang manis getir bagi YouTube. Itulah yang disiratkan CEO YouTube, Susan Wojcicki dalam surat terbukanya kepada para kreator.

Sejumlah hal menjadi renungan, seperti rapor merah ke sejumlah kreator nakal yang berdampak pada ekosistem YouTube, serta "prestasi" buruk YouTube yang mendapat rekor "dislike" terbanyak sepanjang sejarah melalui video YouTube Rewind 2018.

Dalam suratnya, ia juga mengumumkan fokus YouTube 2019. Salah satunya membuka jalan baru bagi kreator untuk memperbanyak pundi-pundi melalui monetisasi.

"Tahun ini, saya memiliki tiga prioritas, pertama mendukung kesuksesan kreator dan artis, kedua meningkatkan komunikasi dan engagement, dan ketiga, meningkatkan tanggung jawab kami," tulisnya.

Baca juga: Jangankan Orang Lain, Anak CEO YouTube Pun Tak Suka Video Rewind 2018

Salah satu cara baru yang dibuka YouTube adalah memperluas layanan YouTube Music dan YouTube Premium ke 29 negara, di mana sebelumnya hanya 5 negara. Ini dilakukan untuk memperluas cara monetisasi di luar iklan.

Selain melalui skema iklan, kreator juga bisa mendapatkan uang melalui layanan "Super Chat", "Channel Membership" (keanggotaan), "Merchandise", dan penjualan tiket.

Tahun lalu, YouTube membuka akses "Merchandise" untuk semua kreator secara global. Ambang batas jumlah subscriber untuk "Membership" juga diturunkan, dari 100.000 menjadi 30.000.

Layanan Membership membujuk pelanggan untuk mejadi sponsor kreator dengan biaya langganan 4,99 dollar AS (sekitar Rp 70.000 per bulan. Nantinya, pelanggan berbayar akan mendapat konten ekslusif, lencana unik, dan emoji baru.

Dari sisi kreator, YouTube telah meningkatkan klasifikasi video menggunakan ikon monetisasi yang akan mempermudah keputusan monetisasi di setiap video. YouTube mengklaim, akurasi ikon monetisasi meningkat 40 persen.

Sekadar informasi, ada dua ikon monetisasi yang digunakan, yakni "green dollar sign" (dollar hijau) untuk menandai video yang monetisasinya terbuka bagi pengiklan, dan "yellow dollar sign" (dollar kuning) untuk menandai video dengan iklan terbatas.

Ikon monetisasi sempat ramai dikeluhkan para kreator tahun lalu. Para kreator mengeluh penonton mereka berkurang setelah mendapat tanda dollar kuning.

YouTube juga membuka pintu bagi para kreator yang ingin mengajukan banding jika YouTube salah menarik konten mereka.

Lebih responsif

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X