Sejarah Amazon, Toko Buku Online yang Berubah Jadi Raksasa Marketplace

Kompas.com - 05/05/2021, 20:21 WIB
CEO Amazon, Jeff Bezos businessinsider.comCEO Amazon, Jeff Bezos
Penulis Bill Clinten
|
Editor Oik Yusuf

Setahun setelah pendiriannya, nama Cadabra pun diganti menjadi Amazon yang dinilai memberi kesan skala yang besar karena merupakan sebutan bagi salah satu sungai terbesar di dunia.  Ini selaras dengan slogan perusahaan tersebut, yaitu "Earth's Biggest Book Store".

Baca juga: Amazon Buka Lowongan Kerja Pertama 26 Tahun Lalu, Profesi Apa yang Dicari?

Amazon juga dipilih karena nama tersebut bakal muncul di deretan paling atas dalam direktori situs web yang kala itu memang disusun berdasarkan urutan abjad.

Nama Amazon masih dipakai hingga sekarang dengan logo khasnya yang menampilkan garis lengkung yang melintang dari huruf awal "A" hingga "Z" yang menyerupai senyuman.

Sentuhan ini konon menandakan budaya kerja perusahaan tersebut, di mana Amazon rela memberikan pelayanan terbaiknya bagi konsumen di seluruh dunia supaya mereka bahagia.

Tidak ada zona nyaman buat karyawan

Amazon dikenal sebagai perusahaan yang memiliki budaya "keras" namun efektif. Bezos sebagai pemimpin dikenal tegas dan berani bicara blak-blakan kepada para karyawannya.

Ketika ada karyawannya yang melakukan sebuah kecerobohan, misalnya, pria berumur 57 tahun itu bisa saja mengatakan "Apa kamu malas atau memang tidak kompeten?" langsung di depan muka karyawannya.

Karakter semacam ini tentunya berpengaruh terhadap budaya dan aturan kerja di perusahaan tersebut yang dituntut keras sejak dulu, di mana tidak ada "zona nyaman" bagi seluruh karyawan.

Setiap dua tahun sekali, misalnya, seluruh karyawan Amazon, termasuk Bezos sendiri, memiliki kewajiban untuk bekerja di bagian customer service. Hal ini bertujuan supaya mereka tahu bagaimana proses layanan konsumen di perusahaan tersebut.

Baca juga: Amazon Digugat Mantan Karyawan gara-gara Waktu Istirahat

Contoh lain adalah ketika ada sesi rapat, di mana karyawan Amazon tidak menggunakan presentasi melalui modul PowerPoint (PPT).

Tiap rapat di perusahaan ini konon dimulai dengan sesi membaca materi yang bakal didiskusikan selama 30 menit. Setelah itu, para peserta rapat baru bisa berdiskusi secara kritis dan menyampaikan ide-ide kreatifnya.

Tidak hanya rapat, kerasnya budaya kerja di Amazon juga tercermin di jam kerjanya.

Pada libur Natal 1998 lalu, misalnya, seluruh karyawan Amazon harus lembur untuk melayani pembeli yang membeludak. Bahkan, banyak dari mereka yang mengajak kerabat dan keluarganya demi membantu memenuhi lonjakan permintaan.

ilustrasi Amazon officebusinessinsider.com ilustrasi Amazon office

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.