Kompas.com - 08/09/2020, 13:30 WIB

Alvin melihat fenomena bahwa orang Indonesia cenderung lebih sering posting di media sosial sebagai langkah pertama ketika menghadapi masalah gadget, alih-alih menelepon hotline atau datang ke service center.

Hal ini berbeda dari kebiasaan di negara-negara maju seperti wilayah Eropa yang juga pernah disinggahi Alvin sebelum menjadi Country Director di Indonesia.

"Alasan lainnya, menurut saya, adalah orang Indonesia cenderung lebih banyak menggunakan ponselnya daripada orang di negara maju. Hampir semua hal didapatkan dari ponsel, jadi ini adalah benda krusial," kata Alvin. Begitu si ponsel bermasalah, pemilik pun posting.

Baca juga: Xiaomi Ingin Hadirkan Layanan Internet di Indonesia

Kebiasaan curhat di medsos tersebut menjadi problem bagi Xiaomi. Pihak pabrikan jadi tidak bisa mengetahui permasalahan apa yang terjadi di kalangan pengguna, karena tak dilaporkan ke service center.

Di komunitas-komunitas online, Alvin melihat peluang untuk mengamati sekaligus menanggapi isu yang dialami oleh para pengguna ini, sekaligus mendapat masukan dari para anggotanya.

"Kami bisa mengetahui masalah yang sebelumnya luput dari pengelihatan kami. Bisa mengukur tingkat keparahan dan penyebarannya, untuk kemudian dilaporkan ke kantor pusat atau tim engineering jika perlu," kata Alvin.

Pria penyuka sate ini mengaku sebelumnya tidak mengetahui keberadaan komunitas online di Indonesia, hingga kemudian beberapa anggota mengundangnya untuk masuk. "Saya putuskan untuk coba lihat, dan memang benar-benar membuka mata saya," ujarnya.

Sebelumnya tak aktif di medsos

Kendati sekarang rajin posting di Instagram dan Twitter, dulu sebenarnya Alvin tak terlalu aktif di media sosial. Dia hanya menggunakannya sebagai sarana untuk menjaga komunikasi dengan teman-temannya di Amerika Serikat setelah meninggalkan negara itu.

Isi feed Instagram Alvin pun kebanyakan hanya foto-foto travel serta restoran yang dia singgahi. Twitter juga hanya diperlakukan sebagai medium untuk memperoleh informasi saja.

Alvin memang berkuliah di Universitas Stanford, California, kemudian sempat mendirikan startup dan bekerja di Flipboard yang juga berbasis di AS sebelum akhirnya berlabuh di Xiaomi. Di sinilah kebiasaannya ber-medsos berubah.

Baca juga: Cerita Bos Xiaomi Indonesia Alvin Tse, Ubah Cita-cita Setelah Berjumpa Steve Jobs

CEO Xiaomi Lei Jun menuntut para pegawainya supaya selalu menyempatkan diri untuk posting di medsos, setidaknya sekali setiap hari, dalam rangka menjaga komunikasi dengan pengguna.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.