2 Ancaman Keamanan Siber Saat Bekerja dari Rumah

Kompas.com - 25/02/2021, 19:02 WIB
Ilustrasi serangan siber. SHUTTERSTOCKIlustrasi serangan siber.

KOMPAS.com - Sejak pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada Maret 2020 lalu, banyak perusahaan yang akhirnya memberlakukan sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Menurut laporan Cisco, 52 persen perusahaan di Indonesia memberlakukan WFH selama pandemi. Namun menurut Cisco, sistem WFH ini ternyata tak luput dari ancaman serangan siber.

Cisco memaparkan setidaknya ada dua hal yang menjadi ancaman keamanan siber terbesar yang dihadapi perusahaan Tanah Air.

Baca juga: 30.000 Komputer Mac Terinfeksi Malware Silver Sparrow

Pertama adalah secure access atau akses ke jaringan atau aplikasi yang digunakan perusahaan. Kedua adalah data pribadi, seperti data penting perusahaan atau data pelanggan. Cisco mencatat sebanyak 70 persen perusahaan menghadapi dua tantangan tersebut.

Tantangan kedua adalah proteksi terhadap malware yang dihadapi oleh 63 persen perusahaan di Indonesia.

Cisco juga mencatat adanya tantangan untuk melindungi beberapa endpoint yang cukup rentan mendapat serangan siber selama WFH, yakni laptop atau desktop kantor, aplikasi cloud, informasi pelanggan, dan perangkat pribadi.

"Sekarang dengan bekerja dari luar, semakin banyak karyawan menggunakan perangkat pribadi yang tidak diprogram perusahaan dan bukan menjadi aset perusahaan, misalnya laptop atau ponsel pribadi. Hal itu meningkatkan juga risiko keamanan siber," jelas Marina Kacaribu, Managing Director Cisco System Indonesia dalam acara temu media secara virtual, Kamis (25/2/2021).

Baca juga: Apa Itu Malware dan Bagaimana Cara Mencegahnya?

Ada beberapa penyebab yang membuat perusahaan lengah terhadap ancaman keamanan siber. Pertama adalah kurangnya pemahaman oleh karyawan terhadap keamanan siber. Hal ini menuntut perusahaan untuk memberikan edukasi yang cukup.

Kedua adalah inconsistent interface, karena perusahaan biasanya cenderung reaktif jika menemukan masalah keamanan. Hal ini menyebabkan solusi keamanan yang digunakan berubah-ubah dan cenderung tidak konsisten.

Penyebab terakhir adalah kurangnya kemampuan perusahaan untuk melihat potensi ancaman siber, terutama jika masalah yang dihadapi sudah semakin kompleks.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X